Showing posts with label PESILAT. Show all posts
Showing posts with label PESILAT. Show all posts

Saturday, 28 July 2018

5 Fakta Pesilat Muda Yuliana, Juara Dunia Pencak Silat yang Pulang Cuma Bawa Piala & Medali



 Tak hanya Lalu Muhammad Zohri yang viral harumkan bangsa, Indonesia punya segudang talenta untuk berbicara banyak di kancah internasional. 
 Satu di antaranya adalah Yuliana (Yuli), atlet asal Dusun Trajon, Desa Montong Are, Kecamatan kediri, Lombok Barat. Ia adalah seorang pesilat didikan Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP).
 Namanya memang nyaris tak terdengar dan tak se-viral Zohri, namun prestasinya telah mendunia.
Hanya saja kisah Yuli mengundang rasa miris karena pulang hanya membawa piala dan medali.

Berikut 5 fakta yang bisa kita telisik dari sosok Yuli.

1. Jadi Juara Dunia di Usia Muda
Yuliana (17), atlet Indonesia yang menjadi juara dalam Kejuaraan Dunia Pencak Silat Junior di Thailand pada April 2018, bersama medali dan pialanya (Kompas.com/Fitri Rachmawati)

 Melansir Kompas.com, saat ini Yuli masih berusia 17 tahun dan duduk di kelas 2 SMA. Ia menjadi juara dunia Pencak Silat Junior 2018 di Songkhla, Thailand, pada bulan April lalu.
 “Juara dunia yang mengibarkan bendera Merah Putih itu kan Yuliana dulu, baru Zohri. Hebatnya dia, dia tak banyak menuntut. Dia selalu mengatakan rezeki tidak akan tertukar," kata Salabi, Pelatih PPLP khusus Pencak Silat pada Kompas.com, Senin (23/7/2018).
 "Miris bagi saya nasibnya Yuliana. Saya bangga padanya, kalau dilihat kondisi kehidupan Yuliana, tak jauh berbeda dengan Zohri,” tambah dia. Salabi sesekali memberi instruksi saat Yuli tengah berlatih dengan Maryati dan Herman.
 Kaki kanan dan kiri Yuli begitu keras menendang samsak, alat bantu olahraga fighting. Dengan lihai dia melakukan tendangan memutar hingga mengunci.

2. Atlet yang Cerdas
 Salabi mengatakan bahwa Yuli adalah atlet yang cerdas, kemauannya tinggi dan cepat menangkap. “Pada event-event yang levelnya tingkat nasional dia tak perlu seorang pendamping. Jadi bisa membaca permainan lawan. Dia sangat cepat dan itu yang membuat dia bisa berhasil dan sangat disiplin,” ungkap sang pelatih.

3. Motivasi Yuliana
 Dalam berlaga, Yuli mengaku termotivasi pesilat kebanggaan NTB. “Saya ini sangat termotivasi dengan Mbak Maryati, sang juara dunia, pesilat kebangggan NTB, yang selalu menang di PON, SEA Games. Saya ingin seperti dia, bisa kibarkan Merah Putih di negara orang. Saya ingin rasakan itu dan tercapai di Thailand. Saya sangat bangga dan senang sekali,” kata Yuli sambil mengepalkan tangannya ke dada.

4. Dikira Bawa Banyak Uang
Ditanya apa yang dibawanya pulang dari Thailand, sinar matanya tetap menyala. “Saya bawa piala, piagam dan medali, itu saja," ungkapnya. “Tidak ada,” jawabnya lagi sambil tersenyum ketika ditanya apakah membawa uang sebagai hadiah.
 Yuli mengatakan, orang-orang di kampungnya beranggapan bahwa dia pulang membawa banyak uang sebagai juara dunia. “Mereka tidak tahu saya tidak mendapatkan apa-apa. Mereka tahunya saya bawa hadiah uang yang banyak, tetapi saya tetap yakin, bukan itu tujuan utama saya,” kata siswi SMAN 2 Mataram ini.

5. Bonus yang Diterima
Yuli mengaku juga mendapatkan bonus ketika tiba di Indonesia. “Dapat bonus dari Pak Gubernur NTB waktu pulang dari Thailand, Rp7,5 juta. Gubernur langsung yang kasih di Kantor Gubernur dan dipesankan terus berlatih,” ungkapnya.
 Yuli membantah menerima bonus lain, selain uang tersebut. Sementara itu, sebelumnya Gubernur NTB Tuan Guru Bajang Zainul Majdi atau TGB pada Minggu 16 Juli 2018, mengatakan bahwa ada protap atau aturan mengenai bantuan untuk atlet berprestasi di Pemerintah Provinsi NTB yang sudah berlaku.
 Hal ini disampaikan TGB ketika Lalu Muhammad Zohri baru saja menjadi juara dalam ajang Kejuaraan Dunia Atletik U-20 untuk nomor 100 meter putra di Tempere, Finlandia, 11 Juli 2018. “Selama ini ya, kalau tingkat nasional Rp100 juta, seperti misalnya PON. Dalam dua PON terakhir, kami memberikan bonus untuk yang medali emas itu Rp100 juta. Kalau yang internasional Rp200 juta. Protap itu juga berlaku bagi Zohri,” kata TGB saat itu.
 Namun Yuli tak ingin menuntut apapun. Dia pasrah dan hanya ingin tetap berusaha mengibarkan Merah Putih di kancah internasional.

Profil Lengkap Yuliana
Nama.    : Yuliana
Usia        : 17 tahun
Ibu     : Sumaini (40), pedagang pelecing
Ayah. : Alm. Sahdi
Ayah tiri : Suadi
Alamat   : Dusun Trajon, Desa Montong Are, Kecamatan kediri, Lombok Barat
Pendidikan terakhir  : SMA 2 Mataram

Prestasi Yuliana:
- Kejuaraan pertamanya adalah OS2N tingkat Kabupaten, kemudian berlanjut ke tingkat provinsi tahun 2015. Yuliana meraih juara pertama. 
- Meraih medali emas Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Remaja di Jakarta (2016)
- Juara I Kejurnas PPLP di Manado (2016)
- Juara I Kejuaraan Sirkuit Bali-Lombok (2016)
- Medali emas Popwil Jawa Timur (2016)
- Medali emas Kejurnas PPLP (2017)
- Medali perunggu Popnas Semarang (2017)
- Juara I dan medali emas Popda NTB (2018)
- Medali emas di Kejuaraan Pencak Silat Dunia tingkat Junior 2018 di Thailand (2018)

Sumber : kompas.com & m.tribunnews.com

Wednesday, 25 July 2018

iko uwais pesilat yang berprofesi sebagai artis



Iko Uwais atau Uwais Qorny lahir pada tanggal 12 Februari 1983 di Jakarta, Indonesia yang berprofesi sebagai aktor, atlet pencak silat, dan koreografer film asal Indonesia yang sangat te

rkenal. Iko mengawali karirnya di dunia pencak silat yang banyak meraih berbagai prestasi dalam bela diri yang sudah 10 tahun ia tekuni. Salah satu prestasinya adalah berhasil meraih juara ke tiga dalam Turnamen Silat Provinsi Jakarta 2003.


Ia terlahir dalam lingkungan keluarga Betawi. Sejak kecil, ia sudah aktif dalam berlatih pencak silat dengan ikut belajar ilmu bela diri dibawah pimpinan pamannya sendiri dengan aliran Silat Betawi. Dalam usianya yang terbilang muda, ia berhasil memenangkan posisi ketiga dalam turnamen pencak silat DKI Jakarta tahun 2003. Setelah memenangkan kejuaraan itu, ia semakin membuktikan bakat yang ada di dalam dirinya dengan cara memenangkan kejuaraan silat nasional.


Selain suka dalam ilmu bela diri pencak silat, ia juga sangat menyukai olahraga bola kaki, hal ini terbukti ia pernah bergabung dalam liga-B klub sepak bola Indonesia. Setelah klub yang ia ikuti mengalami kebangkrutan, ia memutuskan untuk memfokuskan diri dalam ilmu pencak silat dan bekerja di perusahaan telekomunikasi sebagai sopir truk. Karena kecemerlangan bakat yang ia miliki, membawa dirinya untuk terjun keluar negeri seperti Rusia, Inggris dan beberapa negara lainnya.

 Ia pertama kali terjun dalam dunia akting ketika salah satu sutradara asal Wales tertarik akan kemampuan yang dimiliki Iko dan kemudian menawarkan Iko sebagai pemeran utama dalam film yang berjudul Merantau. Iko pun langsung menyetujuinya dan menandatangani kontrak selama lima tahun dengan Gareth Evans. Film yang dimainkannya ini disambut hangat oleh masyarakat yang kemudian membawa namanya semakin terkenal hingga di Hollywood.


Setelah sukses dalam film pertamanya, ia kemudian ikut bermain peran dalam film yang berjudul The Raid : Redemption dimana Iko menjadi pemeran utama sebagai Rama yang merupakan seorang polisi ahli dalam bela diri silat. Film ini sangat sukses dan banyak kritikus film yang beranggapan bahwa film ini merupakan film seni bela diri yang sangat baik. Selain ikut berperan dalam film itu, ia juga sebagai koreografer dalam film yang ia mainkan itu. Setelah sukses dalam film itu, ia sering bermain film dalam film yang berbau silat atau tinju bahkan aktif sampai saat ini. Film yang baru-baru ini dirilis adalah film yang berjudul Headsot pada tahun 2016.

Dalam kehidupan pribadi, ia menikah dengan Audy Item yang merupakan seorang penyanyi pada tanggal 25 Juni 2012 dan dikaruniai satu orang anak. Iko tidak hanya berhasil mengharumkan ilmu bela diri pencak silat di Indonesia saja, melainkan juga membawa nama Indonesi dalam dunia perfilman internasional dan memperkenalkan ilmu bela diri di dunia Internasional.



Sumber : profilbos.com

Tuesday, 24 July 2018

Piepiet kamelia pesilat muda berprestasi kebanggaan indonesia


PestaAsia.com - Pipiet Kamelia merupakan atlet muda yang membanggakan Indonesia dengan prestasinya dalam cabang pencak silat.


Monday, 23 July 2018

WEWEY WITA pesilat cantik kebanggaan indonesia



Wewey Wita berhasil mewujudkan ambisi meraih medali emas di pentas SEA Games. Pesilat cantik yang lahir di Tangerang pada 13 Februari 1993 itu mengalahkan pesilat Vietnam pada pertandingan final nomor Tanding kelas B putri SEA Games 2017
Kala itu, Wewey menang dengan skort telak 4-1. Bagi Wewey, ini adalah pencapaian fantastis mengingat pada dua edisi SEA Games sebelumnya yakni di Myanmar pada 2013 dan Singapura pada 2015, dia hanya meraih medali perak.

"Alhamdulillah. Ternyata doa yang selalu saya panjatkan agar diberikan kekuatan untuk meraih emas di Kuala Lumpur telah dikabulkan Allah SWT. Saya senang dan bangga meraih emas pertama dalam tiga kali penampilan di SEA Games," 


Pencak silat telah membuat nama Wewey dikenal. Kini, dia bahkan berhasil mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah internasional. Wewey berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di pentas SEA Games.
Menariknya, Wewey tak berpikir menjadi atlet pencak silat. Awalnya dia ingin menjadi dokter. Itu tak lepas dari dorongan kedua orang tuanya. Ya, Wewey sempat dilarang menjadi pesilat karena orang tuanya lebih suka dia menjadi dokter atau model.
Hanya saja, Wewey memiliki darah olahraga bela diri yang mengalir dari kakeknya. Hati kecilnya berkata lain sehingga dia memilih menekuni olahraga pencak silat.

Dia bahkan mengaku pernah mencoba menekuni cabang bela diri lainnya, yaitu karate. Tapi, Wewey akhirnya tetap memilih pencak silat sebagai jalan hidupnya.
Wewey mulai mengenal pencak silat sejak duduk di bangku kelas V sekolah dasar di Ciamis, Jawa Barat. “Cita-cita saya sebenarnya ingin jadi dokter, tapi saya juga menyukai semua ekstrakurikuler olahraga. Mulai dari basket, atletik, renang, hingga pencak silat,” imbuhnya.


Perkenalannya dengan pencak silat pun untuk jaga diri sebagai perempuan. ”Melihat perempuan yang tertindas, rasanya ingin membela, tapi kalau ingin membela harus punya ilmu bela diri. Awalnya pencak silat untuk jaga diri, tapi lama-lama keasyikan dan berlanjut,” kata Wewey.
Di pencak silat, Wewey mengaku menemukan teman-teman yang menyenangkan untuk berlatih dan bergaul. Wewey mendapat gemblengan ilmu silat di perguruan silat Perisai Diri.

Seperti pengalaman atlet bela diri putri lainnya, orangtua Wewey pun sempat melarangnya. Namun, orangtuanya tidak lagi melarang setelah putrinya sangat bersungguh-sungguh dan mulai berprestasi.


Niatnya menjadi atlet pencak silat semakin serius setelah bergabung dengan PPLP Jawa Barat di Bandung saat kelas 3 SMP.
Jiwa petarung mengalir dalam diri Wewey. Itu terbukti dengan pilihannya menekuni nomor tarung yang keras, bukan nomor seni yang mengutamakan keindahan dan kekompakan memeragakan jurus.
”Silat lebih sulit daripada cabang bela diri lain. Seperti karate, ada batas kekuatan untuk menyerang lawan. Kalau silat, harus menyerang sekuat mungkin,” bebernya.

Wewey mengungkapkan dirinya belum pernah mencoba menekuni nomor seni. Sejak awal, tujuannya mempelajari pencak silat adalah untuk menjaga diri yang artinya berani bertarung satu lawan satu. Dia pun menilai persaingan di nomor tarung lebih berat karena setiap orang punya kemampuan masing-masing. Nomor tarung menurutnya lebih sulit dipelajari dan lebih menantang.




Sumber : jawapos

PUSPA ARUMSARI pesilat cantik kebanggaan indonesia



Keterlibatan pesilat cantik ini ke dalam seni bela diri saat ini berawal dari satu keinginan sederhana. Sama seperti Kartini yang haus ilmu dan rasa penasaran untuk melihat dunia luar, Puspa Arumsari mengenal silat lantaran keinginantahuan.
Namun, lambat laun Puspa akhirnya menjadi satu sosok atlet yang rajin menyumbangkan gelar untuk DKI Jakarta maupun Indonesia.

Wanita yang akrab disapa Dara ini mengaku pertama kali menjajal pencak silat saat usia 10 tahun. Saat itu dia masih berstatus siswa kelas 5 sekolah dasar.

"Pada awalnya saya sering diajak melihat Abang latihan. Saya tertarik pada silat karena bisa mendapatkan banyak teman di luar sekolah. Sesederhana itu alasannya," kata Dara 

Pada UNJ Open 2007, Dara mulai turun untuk pertama kalinya sebagai atlet di dua kelas, tunggal putri (seni) dan tarung. Sejak mengenyam kemenangan pertamanya di sana, satu per satu gelar juara disabetnya.

Hingga sembilan tahun berada di arena tanding, lulusan Politeknik Negeri Jakarta 2014 tersebut semakin hafal karakter bermain lawannya dari negara lain.

Berasal dari negara yang melahirkan seni bela diri pencak silat, Dara percaya jurus-jurus yang dipraktikkannya lebih baik dari bela diri campuran yang diperagakan lawan.


"Kita lebih beruntung dong, karena kita yang lebih mengenal silat. Kalaupun Thailand mencampurkan Muaythai, itu sah-sah saja selama tidak melanggar regulasi pertandingan," tutur Dara.

"Semenjak terjun di pencak silat, saya jadi mengenal dan menghargai olahraga lain. Dalam silat kan kita juga harus berolahraga, misalnya saat pemanasan," kata pesilat dari perguruan Persaudaraan Setia Hati Teratai ini.

Silat rupanya telah membentuk karakter seorang Puspa 'Dara' Arumsari. Baginya, silat adalah segalanya. Dan, Puspa mengaku ada sosok yang menginspirasinya hingga jadi wanita mandiri berprestasi.

"Kartini dalam hidup saya tentu ibu saya sendiri. Tapi selebihnya saya mengidolakan Mbak Tuti Winarni, juara tunggal putri sebelumnya," tutur Dara



Biodata:

Nama: Puspa Arumsari

Panggilan: Dara

Tempat Tanggal Lahir: Jakarta, 10 Maret 1993

Alamat: Kp. Kramat Setu Cipayung, Mabes Cilangkap

Pendidikan :

- SDN BAMBU APUS 04 PAGI (1999-2005)

- SMPN 259 Jakarta Timur (2005-2006)

- SMPN khusus Olahraga Ragunan Jakarta Selatan (2006-2008)

- SMAN khusus olahraga Ragunan Jakarta Selatan (2008-2011)

- Politeknik Negeri Jakarta, Konsentrasi Desain Grafis (2011-2014)


Prestasi:


- Juara 1 Pra Kualifikasi PON, Gorontalo

- Juara 2 Pencak Silat World Championship, Thailand

- Juara 1 Asean University Games, Indonesia, Palembang

- Juara 2 Malaysia Open, Ipoh, Malaysia

- Juara 1 KEJURNAS DEWASA, Jakarta

- Juara 1 Porseni Politeknik, Pontianak

- Juara 1 POMNAS, Jogja

- Juara 1 Porseni Politeknik, Palembang

- Juara 2 Asean University Games, Laos




Sumber : http://m.liputan6.com